Bahasa Indonesiaku Tercinta

Bila kita ( anak di Jakarta khususnya ) berbicara dengan teman sebaya kita, atau sesama anak dari Jakarta juga, biasa kita menggunakan bahasa Indonesia. Tapi kalau diperhatikan, sepertinya banyak juga kata-kata / frase yang bukan bahasa Indonesia asli, gak jelas abis asal usulnya, serta maksud dan tujuan dari penggunaan itu. Tapi biasanya penyebarannya sangat cepat, dan langsung dimengerti oleh orang yang bersangkutan. Tapi apabila dimintai penjelasan tentang hal ini, banyak dari orang-orang yang tidak bisa menjelaskannya. Banyak juga orang menyebut bahasa ini dengan sebutan : bahasa prokem (jaman 80s) dan yang males banget kalo gue denger dan paling najis banget adalah "bahasa gaul". Gaul itu sendiri salah satu artinya adalah : banyak teman, jadi bahasanya punya banyak temen dong ???? Kaya orang gitu, punya temennya banyak...
Kita sekarang akan mencoba menguraikan tentang fenomena ini.

Penyimpangan bahasa ini, bisa dikategorikan jadi beberapa kelompok :
1. Kata awalan, sisipan dan akhiran.
2. Frase / ungkapan yang sering digunakan dalam sehari-hari.
3. Kata yang diserap dari bahasa asing.
4. Singkatan
5. Kata / frase yang dapat berubah-rubah sesuai variasi penggunaan dan perubahan waktu.
6. Kata-kata yang mempunyai arti jelas, dan digunakan sebagai pengganti kata asli.
7. Bahasa banci
8. Kata pengungkapa ekspresi
9. Pengunaan "wasa" dalam suatu kata
10. Bahasa yang dibalik
11. Yang bersajak

1. Awalan, sisipan dan akhiran.
Kata-kata ini biasanya yang paling sering banget dipakai dalam suatu pembicaraan sehari-hari. Kita pun secara tak sadar memakainya, karena sudah terbiasa saja. Biasanya kata ini tidak mempunya arti yang jelas, bahkan sama sekali gak ada arti / maksud yang bisa dijelasin. Digunakan hanya sekedar buat penegas.

Contoh :
Awalan : men, nyet, woi , eh, eh jek, eh coy, brur, njing
dalam kalimat "Eh, besok ngapain ?" ; "Woi , dengerin gue gak sih ?"

Sisipan : abis, banget, loh, berat
dalam kalimat : "Gila abis tu orang." ; "Yoi banget tuh!" " ; "Eh, makasih loh udah nelpon gue kemarin."

Akhiran: sih , yak, dong, nih
dalam kalimat : "Iya gak sih ??" ; "Eh, jangan gitu dong!" ; "Begimane nih ?"

2. Frase / ungkapan yang sering digunakan dalam sehari-hari.
Untuk kategori ini banyak sekali contohnya, dan juga sering kurang jelas makna dan tujuannya. Biasanya hanya sebagai celaan atau penyemarak suasana.
Keterangan : Kata "Jayus" sempat mempunyai kedudukan lebih tinggi, karena bila orang ngelawaknya garing / gak lucu atau tu orang gak jelas gimana, biasanya "Jayus lo ah...". Tapi asal usul kata tersebut pun tidak jelas. Banyak mitos / kabar angin yang kasih tau asal usul kata "jayus" itu, namun semuanya hanya isapan jempol belaka.
Kata-kata dalam kategori ini pun juga banyak yang berasal dari kata dalam lirik lagu, jingle iklan, ataupun dialog dalam iklan / televisi, yang akhirnya tersebar luas dan dipakai oleh banyak orang. Contoh : Muke lo jauh...
Atau juga istilah-istilah dalam permainan, yang menunjukan suatu keadaan. Contoh : "Topan!" (sambil nunjukin jempol), yang artinya pause dulu. "Gak aci lo!" , yang artinya gak pas / sesuai / setara.

Contoh :
Selametttt yeeeeee
Iye ? Iye ? selamet yeeeeee
Muke luh tuh bau menyan!!
Auk ah gelap, emang gue pikirin.
Gilingan padi
Yoi Doi Toi
EGP !!! (Emang Gue Pikirin)
Wandaa!! :waa...ndak tau ya
JIJAY BAJAY CAP CAY FU YUNG HAY....
Kasian deh loooooo
Yoi cing
Yongkru
Gigi lo gambreng!
Jayus
Emberrrrr
Oke deh kaka!
Tae ah
SGM : sinting gila miring
Muke lu jauh
Samber gledek !
Jangan jangan jangan jangan
Plis dong ah
Iya lah yaw
Adee apeeee ???
Topan-topan! (Sambil nunjukin jempol)
Ah gak aci lo !
Gak pentingggg
Prikitiwww
Basi
Nggak kuku
Gantung

3. Kata yang diserap dari bahasa asing.
Biasanya hanya 1 kata saja, atau gabungan 2 kata bahasa asing ( Inggris, Belanda atau Cina ) yang menjadi 1 kata dalam bahasa Indonesia.
Contoh :
men = man ; "Ayo men.." ; "Gimane men ?"
top = Top ; "Top abis lo..." ; "Top top..salut gue.."
sit = shit ; "Ah, sit nih sekolah gue sekarang."
tenkyu = thank you ; "Weh, tengkyu banget ya!"
slip = sleep ; "Gue mau slip cepet ah malem ini."
dem = damn ; "Dem! Gue gak lulus nih !"
debes = the best ; "Eh, lo musti nonton Spiderman deh, debes abis tu film."s
plis = please ; "Mau ya jemput gue nanti ?? plisssssss" ; "Plis dong ah!"
kemon = come on ; "Mari kita kemon!" ; "Kemon men.." ; "Ayo kemon!"
ngedrop = drop ; "Ngedrop nih men......"
beep = BF = Blue Film "Nonton beep yuk..." ; "Eh, gue ada beep baru nih...".
1000= seceng ; "Pinjem seceng dong buat parkir"
10.000 = ceban ; "Anjingggg rokok kaya ginian ceban !!"
50.000=goban ; "Eh, lo kan minjem goban ama gue, nanti loe bayar ke anu aja!"
eike = saya
yey = kamu

4. Singkatan
Dalam bahasa sehari2, banyak juga dijumpai singkatan-singkatan yang gak jelas, sering membuat orang salah paham, gak ngerti dan terkadang malah norak, tapi ada juga yang bermaksud mencela / nyindir sesuatu.
Contoh :
EGP : emang gue pikirin
ABG: angkatan babe gue, anak baru gede, alat bantu goyang, anak buah gorgom
Nyandu = nyantai duluuuuuuuuuuu
Jibang : jijik banget
Gatoooott : gagal total
PW : posisi wuenak
Sakaw = sakit putaw
Mapet = maruk pete
Ardath : aku rela diperkosa asal tidak hamil
Jarum Super : jarang di rumah suka pergi
Titi DJ Dedi Dores : hati hati dijalan dengan diiringi doa restu
SGM : sinting gila miring
Harmoko : hari hari omong kosong ?
Habibi : hari hari bikin bingung ??

5. Kata / frase yang dapat berubah-rubah sesuai variasi penggunaan dan perubahan waktu.
Dalam bahasa sehari-hari, bannyak kata-kata yang emang udah aneh / gak jelas, namun karena sakin sudah lamanya dipakai, makan mengalami perubahan bentuk.

anjing : sinjing, sinjrit, anjir, anjrit
ya udah : ya udin, ya suw, ya sud, ya sutra lah
Najis = najong
kasian deh lo : cucian deh lo, education deh lo, conversation deh lo, kasino deh lo ( apalagi kalau pake gerakan tangan, bikin makin enek )

6. Kata-kata yang mempunyai arti jelas, dan digunakan sebagai pengganti kata awal.
Kata ini biasa menggantikan kata awal yang dianggap kasar / kurang pantas diucap pada saat tertentu. Atau juga hanya sebagai pengganti saja tanpa maksud lain, atau mungkin sebagai "penunjuk status", jadi apabila memakai kata ini, maka orang itu akan dicap / dianggap mempunyai status tertentu. Bisa juga digunakan agar orang lain (biasanya orang tua / guru) tidak dapat mengerti pembicaraan kita. Banyak kata ini dari angkatan 80an.
Contoh :
Tool, otong, burung = alat kelamin pria
Nyemok = ngerokok
Ngokar = ngerokok
Madol = cabut
Giting = mabok
Neken = triping
Cucaw = nyuntik
Mete = make pete
Cabs = cabut
Doku = uang
Boil = mobil
Sepokat = sepatu
Bonyok = Bokap Nyokap = papa mama
Doi, doski = dia / beliau ; pacar

7. Bahasa banci
Bahasa ini banyak dipergunakan oleh banci. Mungkin awal mulanya mereka kali yang nyiptain, gak jelas juga. Intinya ya gitu, berkesan norak dan paling susah dimengerti oleh orang awam. Menurut pola katanya, jadi diambil suku kata pertama dari kata aslinya, lalu dibuat kata lain yang suku kata pertamanya sama seperti kata aslinya. Contoh : Emang menjadi ember, kencing menjadi kencana.
Contoh :
Gilingan = gila
Lambreta = lama
Akika = aku
Ember = emang
Mawar = mau
Kencana = kencing
(kita gak bisa kasih contoh banyak, soalnya kita gak ada yang banci..)

8. Kata pengungkapan ekspresi
Kata ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan apa yang dimaksud....liat aja deh contohnya....sama sekali gak jelas.

Contoh :
Kaget / gak percaya akan sesuatu
Yang gak jelas banget
Astaganaga!!
Ah mukegile lu!!!
Asli lo ????
Yang boneng ting?
Sumpe lu ??
Kadal mleduk!!
Amit-amit jabang bayi!!
Gile mek!
Yoi pace!
Taek banget!
Malesbanget!

9. Pengunaan "wasa" dalam suatu kata:
Ini yang sampe sekarang belom jelas asal usul dan maksudnya
Contoh :
Anjing = wasainjing
Titit = wasaitit

10. Kata yang dibalik :
Susunan katanya dibalik menurut suku katanya / urutan huruf-hurufnya, bertujuan untuk menyamarkan arti kata aslinya.
Contoh :
wece = cewe
etep = pete
ubas = shabu
ngiprit = triping
giting = tinggi
bais = abis


11.Yang bersajak :
No woman no cry
No school nongkrong
No money nodong

Bersatu kita teguh
Bercerai kita kawin lagi


"....bicaralah dengan bahasa yang dimengerti oleh semua orang, bukan dengan bahasa yang tertera di buku...."